Program Perkuliahan Karyawan
INSTITUT TEKNOLOGI BUDI UTOMO

INSTITUT TEKNOLOGI BUDI UTOMO

ITBU
Tips Kuliah

Cara Staf Pemrograman Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Bagi Latihan Coding Menjadi Tahap Kecil

Cara staf pemrograman membagi waktu kuliah dan pekerjaan, mengatur latihan coding, tenggat pengembangan, waktu cadangan, serta jadwal S1 Teknik Informatika

Cara Staf Pemrograman Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Bagi Latihan Coding Menjadi Tahap Kecil

Bekerja sebagai staf pemrograman membuat waktu kerja tidak selalu berhenti ketika jam kantor selesai.

Ada hari ketika pekerjaan berjalan normal. Ada juga hari ketika muncul bug yang harus segera diperbaiki, fitur harus diselesaikan, atau tenggat pengembangan membuat fokus kerja bertahan lebih lama dari yang direncanakan.

Dalam kondisi seperti ini, kuliah sambil kerja tidak cukup hanya dengan menentukan, “Saya akan belajar setiap malam.”

Yang lebih penting adalah membuat pola belajar yang tetap bisa berjalan ketika pekerjaan berubah.

Bagi staf pemrograman yang sedang mempertimbangkan S1 Teknik Informatika, pertanyaan utamanya bukan hanya:

“Kapan saya punya waktu belajar?”

Tetapi juga:

“Bagaimana saya tetap belajar ketika ada perbaikan aplikasi atau tenggat pengembangan?”

 

Saat Perbaikan Aplikasi Membuat Waktu Belajar Ikut Bergeser

Bayangkan kamu sudah merencanakan belajar setelah pulang kerja.

Namun menjelang sore, muncul masalah pada aplikasi.

Ada fungsi yang tidak berjalan.

Ada perubahan kebutuhan pengguna.

Atau ada bagian kode yang perlu diperiksa ulang sebelum pekerjaan dianggap selesai.

Waktu yang awalnya disiapkan untuk belajar akhirnya digunakan untuk pekerjaan.

Ketika situasi seperti ini berulang, masalahnya tidak selalu karena kamu kurang disiplin.

Bisa jadi rencana belajar terlalu kaku untuk karakter pekerjaan pemrograman.

Karena itu, staf pemrograman sebaiknya memiliki dua pola:

  • Minggu biasa, ketika pekerjaan relatif stabil.
  • Minggu sibuk, ketika ada perbaikan aplikasi, pengembangan fitur, atau tenggat yang lebih ketat.

Target belajar pada kedua kondisi tersebut tidak harus sama.

 

Petakan Benturan Kuliah dan Pekerjaan dalam Kalender Tujuh Hari

Langkah pertama adalah melihat waktu secara utuh.

Buat kalender tujuh hari.

Masukkan:

  • Jam kerja.
  • Waktu perjalanan.
  • Jadwal kelas.
  • Tenggat pekerjaan.
  • Tenggat tugas kuliah.
  • Tanggung jawab rumah.
  • Waktu makan.
  • Waktu istirahat.
  • Aktivitas rutin lain.

Setelah semuanya terlihat, baru cari ruang untuk belajar.

Sebagai contoh awal, kamu dapat mencoba:

  • Dua sesi belajar singkat sekitar 45–60 menit.
  • Satu sesi lebih panjang untuk latihan atau tugas.
  • Satu waktu cadangan.

Angka tersebut bukan aturan wajib.

Tujuannya adalah memiliki pola yang tetap bisa berjalan saat pekerjaan berubah.

 

Sisakan Waktu Cadangan untuk Bug atau Pekerjaan Mendadak

Kalender yang terlalu penuh justru lebih mudah berantakan.

Misalnya:

  • Senin latihan coding.
  • Selasa mengerjakan tugas.
  • Rabu membaca materi.
  • Kamis kelas.
  • Jumat kelas.
  • Sabtu menyelesaikan proyek.
  • Minggu mempersiapkan minggu berikutnya.

Sekilas terlihat rapi.

Namun ketika ada bug mendadak pada Selasa malam, seluruh jadwal berikutnya bisa ikut bergeser.

Karena itu, sisakan minimal satu blok kosong.

Waktu tersebut dapat digunakan ketika:

  • Ada pekerjaan yang melewati jam normal.
  • Ada bug yang membutuhkan perhatian.
  • Tugas kuliah membutuhkan revisi.
  • Latihan coding membutuhkan waktu lebih lama.
  • Tubuh membutuhkan istirahat tambahan.

Ruang kosong membuat kalender lebih tahan terhadap perubahan.

 

Bedakan Target Minggu Biasa dan Minggu Tenggat

Pada minggu biasa, kamu bisa menggunakan waktu belajar untuk aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih besar.

Misalnya:

  • Mempelajari algoritma baru.
  • Melatih pemrograman.
  • Membuat aplikasi latihan.
  • Mengerjakan tugas.
  • Mempelajari basis data.
  • Membaca dokumentasi.

Pada minggu ketika pekerjaan sedang padat, kurangi ukuran target.

Misalnya cukup:

  • Membaca ulang kode latihan.
  • Memperbaiki satu fungsi.
  • Meninjau satu konsep.
  • Menyelesaikan satu bagian tugas.
  • Membaca catatan kuliah.
  • Menyiapkan pertanyaan untuk kelas.

Dengan cara ini, kesibukan tidak otomatis menghentikan proses belajar.

 

Bagi Latihan Coding Menjadi Fitur Kecil

Salah satu cara paling praktis untuk pekerja pemrograman adalah tidak menjadikan satu aplikasi sebagai satu tugas besar.

Misalnya kamu ingin membuat aplikasi latihan pencatatan tugas.

Jangan langsung menulis target:

“Buat aplikasi pencatatan tugas.”

Pecah menjadi beberapa bagian:

  • Membuat struktur data.
  • Membuat fitur tambah tugas.
  • Membuat fitur edit tugas.
  • Membuat fitur hapus tugas.
  • Membuat status selesai.
  • Menyimpan data.
  • Menguji tiap fungsi.

Dengan cara ini, setiap sesi belajar memiliki hasil yang jelas.

Satu malam mungkin hanya menyelesaikan satu fitur.

Tidak masalah.

Yang penting prosesnya tetap bergerak.

 

Tentukan Hasil, Bukan Sekadar Lama Belajar

Target seperti “belajar coding dua jam” sering terlalu umum.

Lebih baik tentukan hasil.

Misalnya:

  • Memahami satu algoritma.
  • Menyelesaikan satu fungsi.
  • Membuat satu query basis data.
  • Menguji satu fitur.
  • Memperbaiki satu kesalahan kode.
  • Menulis satu bagian dokumentasi.

Hasil seperti ini lebih mudah dievaluasi.

Kamu tahu apakah sesi belajar selesai dengan kemajuan yang nyata.

 

Majukan Tugas sebelum Tenggat Pengembangan Pekerjaan

Jika kamu tahu ada periode pekerjaan yang akan lebih sibuk, gunakan informasi itu untuk mengatur kuliah.

Misalnya dalam dua minggu akan ada rilis aplikasi.

Jangan menunggu minggu rilis untuk mengerjakan tugas kuliah.

Majukan bagian yang bisa diselesaikan lebih awal.

Contohnya:

  • Membaca instruksi tugas.
  • Menyiapkan bahan.
  • Menentukan topik.
  • Membuat kerangka.
  • Menulis bagian awal.
  • Menyelesaikan latihan sebelum tenggat.

Ketika pekerjaan mulai padat, beban tugas kuliah sudah lebih ringan.

 

Hindari Menjadikan Begadang sebagai Strategi Utama

Pekerjaan pemrograman menuntut konsentrasi.

Belajar pemrograman juga demikian.

Ketika kurang tidur, kesalahan kecil lebih mudah terjadi.

Logika lebih sulit dipertahankan.

Kode yang sederhana bisa terasa lebih rumit.

Karena itu, ketika minggu sibuk, lebih baik kurangi target daripada terus mengurangi waktu tidur.

Misalnya:

  • Dari dua jam menjadi 45 menit.
  • Dari satu modul menjadi satu subtopik.
  • Dari satu aplikasi menjadi satu fitur.
  • Dari materi baru menjadi review.

Yang dijaga adalah kontinuitas.

 

Latih Penentuan Prioritas

Staf pemrograman biasanya menghadapi beberapa pekerjaan sekaligus.

Ada bug.

Ada fitur baru.

Ada revisi.

Ada dokumentasi.

Ada tenggat.

Prinsip serupa bisa diterapkan pada kuliah.

Kelompokkan aktivitas menjadi:

  • Harus selesai segera.
  • Bisa dimajukan sebelum minggu sibuk.
  • Bisa masuk ke waktu cadangan.
  • Bisa menunggu.

Dengan pembagian seperti ini, kamu tidak harus menganggap semua tugas sebagai prioritas utama pada saat yang sama.

 

Hubungkan Waktu Belajar dengan Pemrograman Terstruktur

Salah satu kebutuhan pekerja pemrograman adalah tidak hanya mampu membuat kode bekerja, tetapi juga memahami bagaimana kode disusun secara lebih terstruktur.

Misalnya kamu membuat aplikasi latihan.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah programnya jalan?”

Coba tambahkan pertanyaan:

  • Apakah fungsinya terlalu panjang?
  • Apakah tugas setiap bagian sudah jelas?
  • Apakah nama variabel mudah dipahami?
  • Apakah logika dapat dipisahkan menjadi modul?
  • Apakah kode mudah diperiksa ulang?
  • Apakah perubahan kecil membuat banyak bagian lain ikut berubah?

Pertanyaan seperti ini membantu mengembangkan pemahaman tentang pemrograman terstruktur.

 

Gunakan Aplikasi Latihan, Bukan Proyek Perusahaan

Pengalaman kerja tentu bisa membantu memahami materi.

Namun, latihan kuliah tidak perlu menggunakan kode atau data internal perusahaan.

Gunakan:

  • Proyek fiktif.
  • Data simulasi.
  • Aplikasi latihan.
  • Contoh sederhana.
  • Informasi yang memang boleh digunakan.

Misalnya buat aplikasi sederhana untuk:

  • Daftar tugas.
  • Pencatatan pengeluaran.
  • Inventaris pribadi.
  • Daftar buku.
  • Catatan kebiasaan.

Tujuannya adalah melatih konsep, bukan menyalin proyek pekerjaan.

 

Pecah Perancangan Aplikasi Menjadi Langkah Kecil

Selain coding, perancangan aplikasi juga dapat dibagi menjadi tahap kecil.

Misalnya kamu ingin membuat aplikasi inventaris sederhana.

Mulai dari:

  • Siapa penggunanya?
  • Masalah apa yang ingin diselesaikan?
  • Data apa yang dibutuhkan?
  • Fitur apa yang paling penting?
  • Bagaimana alur pengguna?
  • Bagaimana data disimpan?
  • Bagaimana hasilnya diuji?

Dengan cara ini, kamu mulai melihat aplikasi bukan hanya sebagai kumpulan kode.

Ada masalah yang perlu dipahami sebelum solusi dibuat.

 

Dari Memperbaiki Bug Menuju Memahami Struktur Sistem

Dalam pekerjaan, fokus utama sering kali adalah membuat aplikasi kembali berjalan.

Bug ditemukan.

Masalah diperbaiki.

Pekerjaan dilanjutkan.

Namun, seiring pengalaman bertambah, pertanyaannya bisa berubah.

Bukan hanya:

“Bagaimana memperbaiki error ini?”

Tetapi:

“Mengapa struktur aplikasi membuat error seperti ini mudah muncul?”

Kemudian:

“Bagaimana aplikasi bisa dirancang lebih terstruktur?”

Cara berpikir seperti ini relevan bagi pekerja yang ingin memperkuat pemrograman dan perancangan aplikasi.

 

Hubungkan Kuliah dengan Kebutuhan Pekerjaan

Program S1 Teknik Informatika mempelajari pemrograman, algoritma, basis data, dan pengembangan perangkat lunak.

Bagi staf pemrograman, bidang tersebut dapat dihubungkan dengan kebutuhan kerja sehari-hari.

Misalnya:

  • Algoritma membantu melatih logika penyelesaian masalah.
  • Pemrograman membantu membangun struktur kode.
  • Basis data membantu memahami penyimpanan dan pengolahan informasi.
  • Pengembangan perangkat lunak membantu melihat proses pembuatan aplikasi lebih menyeluruh.

Dengan begitu, waktu belajar tidak terasa terpisah dari pekerjaan.

Baca juga: Pelajari S1 Teknik Informatika ITBU

 

Bangun Kebiasaan Belajar yang Mendukung Perubahan Peran

Kuliah sambil bekerja di bidang pemrograman bukan hanya soal menambah waktu untuk coding.

Kamu juga sedang membangun cara berpikir yang lebih terstruktur.

Kamu mulai terbiasa bertanya:

  • Apa masalah yang ingin diselesaikan?
  • Bagaimana logikanya?
  • Data apa yang dibutuhkan?
  • Bagaimana aplikasi sebaiknya dibagi menjadi bagian kecil?
  • Apa risiko perubahan?
  • Bagaimana kode dapat diuji?

Pembelajaran terstruktur, diskusi, dan umpan balik membantu pertanyaan tersebut berkembang.

Pengalaman kerja memberi konteks.

Kuliah membantu memperluas kerangka berpikir.

 

Evaluasi Kalender Setiap Minggu

Jadwal belajar tidak harus langsung sempurna.

Setiap akhir minggu, evaluasi dengan tiga pertanyaan.

  • Apakah tugas penting selesai?
  • Apakah konsep yang dipelajari benar-benar dipahami?
  • Apakah waktu istirahat masih cukup?

Jika bug pekerjaan selalu membuat tugas kuliah berhenti, berarti waktu cadangan perlu diperbesar.

Jika semua tugas selesai tetapi kamu terus kelelahan, jadwal terlalu padat.

Jika waktu belajar tidak terlalu lama tetapi latihan tetap selesai, pola tersebut bisa jadi lebih efektif.

 

Contoh Kalender Minggu Biasa untuk Staf Pemrograman

Contoh pola berikut bisa disesuaikan.

Senin

  • Membaca materi selama 30–45 menit.
  • Fokus pada satu konsep.

Selasa

  • Latihan satu fungsi atau satu algoritma.

Rabu

  • Sesi lebih panjang untuk tugas atau aplikasi latihan.

Kamis

  • Review materi.
  • Gunakan sebagai waktu cadangan jika pekerjaan bertambah.

Jumat

  • Menyelesaikan bagian tugas yang memiliki tenggat dekat.

Sabtu

  • Mengikuti kelas atau mengerjakan latihan lebih panjang.

Minggu

  • Meninjau kemajuan.
  • Menyiapkan target belajar minggu berikutnya.
     

Contoh Kalender ketika Ada Tenggat Pengembangan

Pada minggu sibuk, pola dapat diperingan.

Awal minggu

  • Majukan tugas kuliah.
  • Kerjakan bagian yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Hari menjelang tenggat pekerjaan

  • Fokus pada pekerjaan.
  • Gunakan sesi singkat untuk review.

Setelah pekerjaan stabil

  • Gunakan waktu cadangan untuk melanjutkan tugas.

Akhir minggu

  • Evaluasi bagian yang tertunda.
  • Susun ulang prioritas.

Satu minggu sibuk tidak harus memutus seluruh proses belajar.

 

Menyesuaikan Waktu dengan Kelas Karyawan S1 Teknik Informatika ITBU

Jika kamu sedang mempertimbangkan pendidikan formal, Institut Teknologi Budi Utomo atau ITBU di Jakarta Timur memiliki Program S1 Teknik Informatika Kelas Karyawan (P2K).

Program ini mempelajari pemrograman, algoritma, basis data, dan pengembangan perangkat lunak.

Gelar yang diperoleh adalah Sarjana Teknik (S.T.).

Program Studi S1 Teknik Informatika ITBU tercatat berakreditasi Baik, dan institusi ITBU juga tercatat berakreditasi Baik.

Perkuliahan menggunakan metode Blended Learning dan Tatap Muka.

Jadwal kelas yang tercantum adalah:

  • Senin: 18.30–20.30
  • Selasa: 18.30–20.30
  • Rabu: 18.30–20.30
  • Kamis: 18.30–20.30
  • Jumat: 18.30–20.30
  • Sabtu: 14.00–17.00

Bagi staf pemrograman, jadwal tersebut dapat dimasukkan langsung ke kalender kerja.

Perhatikan:

  • Jam selesai bekerja.
  • Waktu perjalanan.
  • Potensi bug atau pekerjaan mendadak.
  • Periode tenggat pengembangan.
  • Waktu istirahat.
  • Ruang untuk tugas kuliah.

Informasi mengenai apakah seluruh hari tersebut merupakan satu paket atau pilihan jadwal dapat dikonfirmasi langsung kepada pihak kampus.

Baca juga: Informasi S1 Teknik Informatika ITBU

 

Perhitungkan Biaya Bersamaan dengan Jadwal

Selain waktu, pembiayaan juga perlu dimasukkan dalam rencana.

Data program mencantumkan:

  • Biaya formulir: Rp150.000
  • Biaya herregistrasi: Rp1.250.000
  • Total biaya awal simulasi: Rp1.400.000
  • Simulasi enam kali angsuran: Rp1.060.000 per bulan

Dengan mengetahui komponen biaya sejak awal, kamu dapat memasukkannya ke dalam perencanaan rutin bersama kebutuhan lainnya.

Informasi kampus secara umum juga dapat dilihat melalui website ITBU Jakarta.

 

Bawa Kalender Kerja ketika Bertanya kepada PMB

Jika ingin mengetahui kecocokan program dengan pekerjaan, jangan hanya bertanya:

“Apakah ini kelas karyawan?”

Lebih baik membawa jadwal kerja nyata.

Kemudian tanyakan:

  • Apakah kelas Senin sampai Jumat semuanya wajib?
  • Apakah Sabtu merupakan bagian dari jadwal yang sama?
  • Bagaimana pembagian Blended Learning dan Tatap Muka?
  • Apakah jadwal berubah setiap semester?
  • Berapa banyak tugas yang biasanya dikerjakan di luar kelas?
  • Bagaimana pola perkuliahan bagi pekerja yang memiliki tenggat pengembangan aplikasi?

Pertanyaan yang spesifik membantu kamu mendapatkan gambaran yang lebih nyata sebelum mendaftar.

 

Kuliah Sambil Kerja Pemrograman Perlu Dipecah Menjadi Tahap Kecil

Pekerjaan pemrograman sering melibatkan masalah yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya.

Bug dapat muncul.

Kebutuhan pengguna berubah.

Tenggat bisa mendekat.

Karena itu, strategi belajar yang terlalu kaku lebih mudah gagal.

Mulailah dengan:

  • Membuat kalender tujuh hari.
  • Membedakan minggu biasa dan minggu sibuk.
  • Menyediakan waktu cadangan.
  • Memajukan tugas sebelum tenggat pekerjaan.
  • Membagi latihan coding menjadi fitur kecil.
  • Membuat target berbasis hasil.
  • Menjaga waktu istirahat.
  • Menggunakan proyek simulasi untuk latihan.

Dengan pola seperti ini, pekerjaan dan kuliah tidak harus selalu berebut waktu.

Pengalaman sebagai staf pemrograman justru dapat menjadi konteks untuk memperdalam pemrograman terstruktur dan perancangan aplikasi.

 

Pelajari S1 Teknik Informatika di ITBU, siapkan kalender kerja beserta periode tenggat pengembanganmu, lalu diskusikan kecocokan jadwal dengan PMB sebelum mendaftar.